Sabtu, 11 Juni 2016

DALAM KEGAGALAN KU TEMUKAN KESUKSESANKU

SUKSES TERBESAR DALAM HIDUPKU

Nama saya Ni Ketut Artanti Agustini. Walaupun nama saya identik dengan Bali, namun saya dilahirkan oleh keluarga yang sempurna di kota yang sangat jauh dari Bali. LARANTUKA (FLORES TIMUR) kota kelahiranku.
Berbicara tentang sukses, sampai dengan saat ini saya belum mencapai suatu kesuksesan yang terbesar dalam hidup saya. Mengapa demikian? Karena Selama ini  kebanyakan orang termasuk saya, berpikir bahwa sukses itu adalah ketika kita mencapai suatu keinginan besar ataupun cita­-cita yang tinggi. Contohnya keinginan besar saya adalah memiliki pekerjaan yang mapan lalu dengan hasil dari pekerjaan itu saya dapat membahagiakan kedua orangtua saya. Namun sayang, sampai dengan saat ini keinginan saya itu belum tercapai.
Cara paling sederhana untuk memahami kesuksesan yaitu dengan contoh sederhana seperti, dapat berbicara, dapat berjalan, dapat  berlari, membaca, bahkan bisa menamatkan taman kanak-kanak hingga masuk ke perguruan tinggi. Apakah hal tersebut merupakan kesuksesan? Iya, tentu saja hal tersebut merupakan bentuk kesuksesan. Namun, apakah contoh di atas merupakan sukses terbesar di hidup anda? Mungkin lebih tepat lagi, tanyakan pada diri anda, apa sukses terbesarku?
Cerita ini dimulai ketika saya berumur 16 tahun (kelas 2 SMA), kira-kira 2 tahun yang lalu. Saya tepilih mewakili kota kelahiranku, untuk menjadi salah satu calon PASUKAN PENGIBAR BENDERA PUSAKA tingkat provinsi. Setelah berangkat ke provinsi dan mulai menjalani beberapa kegiatan di sana, seperti perkenalan, pemeriksaan kesehatan, dan kegiatan lainnya, kami diseleksi lagi. Dalam seleksi ini, beberapa dari kami dinyatakan tidak bisa lanjut ke tahap berikutnya (termasuk saya).
Dari cerita singkat di atas mungkin  menurut kalian tidak ada suatu kesuksesan,  melainkan suatu kegagalan. Namun dalam pengalaman saya ini, saya merasakan bahwa hal inilah yang menjadi suatu kesuksesan terbesar dalam hidup saya walaupun telah mengecewakan kota kelahiranku.
Setelah menerima kabar bahwa saya telah gugur, saya dan teman-teman yang juga gugur dipanggil menghadap ke salah satu pengurus PASUKAN PENGIBAR BENDERA PUSAKA. Mereka memberitahukan alasan kenapa kami gugur. Setelah diberitahu, ternyata alasan mengapa saya bisa gugur adalah identitas saya yaitu pernah menjadi salah satu PASUKAN PENGIBAR BENDERA PUSAKA tingkat kabupaten.
Ketika mengetahui alasannya, saya kembali teringat mengapa semua ini terjadi. Dan ternyata saya sadar kejadian ini merupakan salah satu wujud dari doa saya. Karena pada saat yang sama ketika saya terpilih menjadi calon PASUKAN PENGIBAR BENDERA PUSAKA, keluarga saya berencana pergi ke Bali karena ada hal penting yang harus kami sekeluarrga hadiri. Saya sangat ingin sekali hal ini terjadi karena kami sekeluarga belum pernah melakukan perjalanan bersama. Karena hal inilah yang membuat saya terus berdoa. Dan akhirnya terkabul.
Saat mendengar bahwa saya gugur, perasaan menyesal yang mendalam dan pasrah pun tercampur. Menyesal karena tidak membawa nama kabupaten dengan baik, sudah diberi kepercayaan namun gagal melaksanakannya, dan pasrah menerima apa yang sudah terjadi, karena ini juga merupakan doa saya. Namun dibalik semua ini ada suatu kesuksesan besar yang saya rasakan yakni saya bisa memberikan hasil (uang) kepada kedua orangtua saya selama mengikuti pelatihan calon PASUKAN PENGIBAR BENDERA PUSAKA.
Dari cerita ini mungkin terdengar seperti sebuah kekonyolan, hanya untuk kebersamaan dalam sebuah keluarga saya rela melakukan semua ini. Namun dari pengalaman ini saya menemukan dan memahami apa itu kesuksesan terbesar. Walaupun saat ini belum mendapatkan pekerjaan yang mapan, setidaknya saya pernah (walaupun sedikit) memberi sesuatu yang layak kepada kedua orangtua saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar