Minggu, 12 Juni 2016

TUGAS PERKEMBANGAN MASA ANAK-ANAK,REMAJA, DAN DEWASA

1.      Tugas Perkembangan Masa Anak

  Tugas perkembangan masa anak menurut :
Ø  Munandar (1985) adalah belajar berjalan, belajar mengambil makanan yang padat, belajar berbicara, toilet training, belajar membedakan jenis kelamin dan dapat kerja kooperatif, belajar mencapai stabilitas fisiologis, pembentukan konsep-konsep yang sederhana mengenai kenyataan sosial dan fisik, belajar untuk mengembangkan diri sendiri secara emosional dengan orang tua, sanak saudara dan orang lain serta belajar membedakan baik dan buruk.

Ø  Havighurst (dalam Hurlock, 1980) tugas perkembangan pada masa anak-anak adalah sebagai berikut:
·         Mempelajari ketrampilan fisik yang diperlukan untuk permainan-permainan yang umum.
·         Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai mahluk yang sedang tumbuh.
·         Belajar menyesuaikan diri dengan teman-teman seusianya
·         Mulai mengembangkan peran sosial pria atau wanita yang tepat
·         Mengembangkan ketrampilan-ketrampilan dasar untuk membaca, menulis dan berhitung
·         Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari
·         Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, dan tata dan tingkatan nilai
·         Mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan lembaga-lembaga
·         Mencapai kebebasan pribadi.

2.      Tugas Perkembangan Masa Remaja
Seorang remaja dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya dapat dipisahkan ke dalam tiga tahap secara berurutan (Kimmel, 1995: 16):
·         Tahap pertama adalah remaja awal, di mana tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikannya sebagai remaja adalah pada penerimaan terhadap keadaan fisik dirinya dan menggunakan tubuhnya secara lebih efektif. Hal ini karena remaja pada usia tersebut mengalami perubahan-perubahan fisik yang sangat drastis, seperti pertumbuhan tubuh dan perubahan bentuk fisik.

·         Tahap kedua adalah remaja madya, di mana tugas perkembangan yang utama adalah mencapai kemandirian dan otonomi dari orang tua, terlibat dalam perluasan hubungan dengan kelompok sebaya dan mencapai kapasitas keintiman hubungan pertemanan; dan belajar menangani hubungan heteroseksual, pacaran dan masalah seksualitas.

·         Tahap ketiga adalah remaja akhir, di mana tugas perkembangan utama adalah mencapai kemandirian seperti yang dicapai pada remaja madya, namun berfokus pada persiapan diri untuk benar-benar terlepas dari orang tua, membentuk pribadi yang bertanggung jawab, mempersiapkan karir ekonomi, dan membentuk ideologi pribadi yang di dalamnya juga meliputi penerimaan terhadap nilai dan sistem etik.


Demikianlah, penjelasan mengenai tugas-tugas perkembangan remaja sebagai satu bagian dalam memahami remaja sebagai suatu masa transisi, menjembatani masa kanak-kanak yang tidak matang ke masa dewasa yang matang. Macam transisi yang berbeda akan membawa pengaruh yang berbeda pula bagi individu yang mengalaminya. Demikian pula dengan bagaimana cara kita melihat transisi tersebut akan mempengaruhi bagaimana kita dapat memahami apa yang dialami dan dirasakan oleh remaja. Selanjutnya, kita akan melihat perubahan dan perkembangan apa yang dialami oleh individu selama masa remajanya.

Ø  Menurut Havighurst, tugas-tugas perkembangan seorang remaja adalah sebagaipberikut:

·         Menerima keadaan fisik dirinya sendiri dan menggunakan tubuhnya secara lebih efektif. Walaupun kedengarannya sederhana dan mudah diucapkan, menerima keadaan fisik diri sendiri sering kali menjadi masalah yang cukup besar bagi remaja. Banyak di antara kita yang sulit menerima kenyataan bahwa kita berkulit gelap atau tidak setinggi dan selangsing teman sebaya. Perasaan tidak puas ini kemudian membuat kita selalu dilanda perasaan minder. Untuk mengatasi hal ini, sebaiknya fokuskan perhatian ke kelebihan kita dan jadikan itu sebagai daya tarik. Selain itu, hilangkan dari pikiran apa yang selama ini selalu ditanamkan oleh lingkungan kita, bahwa cewek harus cantik, putih, tinggi, dan langsing untuk dapat disebut sebagai cewek sejati, sedangkan cowok harus berbadan kekar, berbulu, dan bersuara dalam untuk bisa dikatakan jantan. Karena, kalau kita memang enggak punya gen untuk dapat berpenampilan seperti itu, kita cuma jadi gelisah dan enggak puas diri selamanya, sehingga lupa bahwa kita punya banyak potensihdiri.

·         Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya. Usaha untuk mencapai kemandirian emosional bisa membuat remaja melawan keinginan atau bertentangan pendapat dengan orangtuanya. Dengan ciri khas remaja yang penuh gejolak dan emosional, pertentangan pendapat ini sering kali membuat remaja menjadi pemberontak di rumah. Apabila masalah ini tidak terselesaikan, terutama apabila orangtua bersikap otoriter, remaja cenderung untuk mencari jalan keluar di luar rumah, yaitu dengan cara bergabung dengan teman-teman sebaya yang senasib. Sebetulnya, curhat dengan teman sebaya tidak ada salahnya, selama teman sebaya itu bisa membantu mendapatkan solusi yang baik. Namun, sering kali karena yang dihadapi adalah remaja seusia yang punya masalah yang kurang lebih sama dan sama-sama belum berhasil mengerjakan tugas perkembangan yang sama, bisa jadi solusi yang ditawarkan kurang bijaksana. Karena itu, kita perlu selalu ingat bahwa untuk melepaskan diri secara emosional dari orangtua pun, bisa dilakukan dengan meminta dukungan orangtua ataupun orang dewasa yang ada di sekitar kita. Tentunya bukan dengan cara meminta mereka untuk memecahkan masalah kita, tapi lebih kepada memahami keinginan kita untuk dipahami sebagai individu yang beranjak dewasa dan tidak inginoterlaluktergantungolagiokepadaomereka.

·         Mencapai suatu hubungan dan pergaulan yang lebih matang antara lawan jenis yang sebaya. Sehingga, remaja akan mampu bergaul secara baik dengan kedua jenis kelamin, baik laki-laki maupun perempuan. Kemampuan untuk mencapai tugas perkembangan ini juga dipengaruhi oleh banyaknya interaksi yang dialami seorang remaja dengan orang-orang dari kedua jenis kelamin. Tapi, hal ini sama sekali tidak berarti bahwa kalau kita sekolah di sekolah khusus cowok atau khusus cewek, kemampuan kita untuk bergaul secara matang dengan jenis kelamin lain akan terganggu. Karena di sekolah kan juga ada guru, petugas perpustakaan dan kebersihan dari jenis kelamin lain, dan kita juga berinteraksi dengan mereka. Selain itu, pergaulan tidak terbatas di sekolah saja. Ketika kita pulang, di rumah dan di lingkungan sekitar juga terdapat kenalan pria dan wanita. Jadi, temen-temen di SMU Tarakanita, SMU Pangudi Luhur, ataupun sekolah khusus lainnya, enggak perlu khawatir. Kemampuan untuk berinteraksi dengan seimbang itu hanya dapat terganggu apabila kita sendiri yang memang menciptakan batasan untukobergaul.

·          Dapat menjalankan peran sosial maskulin dan feminin. Peran sosial yang dimaksud di sini adalah seperti yang diharapkan masyarakat, dan bergeser sesuai dengan peralihan zaman. Apabila pada zaman dahulu secara sosial dianggap baik bila laki-laki mencari nafkah di luar rumah sedangkan perempuan mengurus rumah tangga, dengan timbulnya kesadaran akan kesetaraan jender sekarang ini tidak harus demikian. Sehingga, yang paling penting untuk dipahami adalah sebagai anggota dari satu jenis kelamin, kita jangan sampai kemudian merasa berhak untuk mensubordinasi atau memperlakukan anggota jenis kelamin lain secara buruk atau semena-mena, baik di publik (masyarakat) maupun domestik (rumahotangga).

·         Berperilaku sosial yang bertanggung jawab. Idealnya, seseorang tentu diharapkan untuk berpartisipasi demi kebaikan atau perbaikan di lingkungan sosialnya, namun bila hal itu belum bisa dijalankan, minimal yang harus dilakukan adalah tidak menjadi beban bagi masyarakat atau lingkungan sosialnya. Karena itulah, remaja yang terlibat tawuran sampai menghancurkan fasilitas umum tentu tidak dapat dianggap telah melampaui tugas perkembangan yang satu iniodenganosukses.

·                   Mempersiapkan diri untuk memiliki karier atau pekerjaan yang mempunyai konsekuensi ekonomi dan finansial. Setelah melepaskan diri dari ketergantungan emosional dengan orangtua atau orang dewasa lain, tugas yang menanti remaja adalah juga melepaskan diri dari ketergantungan finansial dari mereka. Karena itulah, belajar bekerja juga merupakan hal yang perlu dilakukan oleh remaja, betapapun kecil penghasilan yang diperoleh. Dengan demikian, diharapkan pada saatnya nanti kita bisa siap terjun dan bekerja di masyarakat.

·         Mempersiapkan perkawinan dan membentuk keluarga. Dengan dilaluinya tugas perkembangan yang telah disebutkan tadi yaitu yang berkaitan dengan kemampuan untuk bergaul dengan sesama maupun lawan jenis, diharapkan pergaulan ini akan dapat membawa ke langkah selanjutnya yaitu untuk memilih pasangan hidup yang sesuai dan mulai mempersiapkan diri membentuk keluarga.



·         Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku sesuai dengan norma yang ada di masyarakat. Keberhasilan remaja melaksanakan tugas perkembangan ini ditandai dengan, misalnya, kesuksesannya meredam serta mengendalikan gejolak emosi maupun seksualnya sehingga dapat hidup sesuai dengan norma dan etika yang berlaku. Untuk dapat memperoleh konsep diri yang memegang seperangkat nilai ini, remaja dapat memiliki role model atau seseorang yang dijadikan tokoh idola yang tingkah lakunya kemudian diteladani.

3.      Tugas Perkembangan Masa Dewasa

    Tugas perkembangan masa dewasa dibagi menjadi pada tiga tahap, yaitu:
Ø  Masa dewasa awal
Memilih pasangan hidup, belajar hidup dengan suami atau istri, memulai kehidupan berkeluarga, membimbing dan merawat anak, mengolah rumah tangga, memulai suatu jabatan, menerima tanggung jawab sebagai warga Negara, menemukan kelompok sosial yang cocok dan menarik
Ø  Masa setengah baya
Memperoleh tanggung jawab sosial dan warga Negara, membangun dan memperthankan standar ekonomi, membantu anak remaja untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan bahagia, membina kegiatan pengisi waktu senggang orang dewasa, membina hubungan dengan pasanga hidup sebagai pribadi, menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan fisik sendiri, menyesuaikan diri dengan pertambahan umur
Ø   Tugas perkembangan orang tua
Menyesuaikan diri dengan menurunya kesehatan dan kekuatan fisik, menyesuaikan diri terhadap masa pensiun dan menurunya pendapatan, menyesuaikan diri yterhadap meninggalnya suami/istri, menjalin hubuingan dengan perkumpulan manusia usia lanjut, memenuhi kewajiban sosial dan sebagai warga Negara, membangun kehidupan fisik yang memuaskan

Menurut Havighurst setiap tahap perkembangan individu harus sejalan dengan perkembangan aspek-aspek lainya, yaitu fisik, psikis serta emosional, moral dan sosaial.
     Adapun tugas perkembangan dewasa lainnya adalah
·         Memilih pasangan.
·         Belajar hidup dengan pasangan.
·         Memulai hidup dengan pasangan.
·         Memelihara anak.
·         Mengelola rumah tangga.
·         Memulai bekerja.
·         Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara.
·         Menemukan suatu kelompok yang serasi.

Sabtu, 11 Juni 2016

DALAM KEGAGALAN KU TEMUKAN KESUKSESANKU

SUKSES TERBESAR DALAM HIDUPKU

Nama saya Ni Ketut Artanti Agustini. Walaupun nama saya identik dengan Bali, namun saya dilahirkan oleh keluarga yang sempurna di kota yang sangat jauh dari Bali. LARANTUKA (FLORES TIMUR) kota kelahiranku.
Berbicara tentang sukses, sampai dengan saat ini saya belum mencapai suatu kesuksesan yang terbesar dalam hidup saya. Mengapa demikian? Karena Selama ini  kebanyakan orang termasuk saya, berpikir bahwa sukses itu adalah ketika kita mencapai suatu keinginan besar ataupun cita­-cita yang tinggi. Contohnya keinginan besar saya adalah memiliki pekerjaan yang mapan lalu dengan hasil dari pekerjaan itu saya dapat membahagiakan kedua orangtua saya. Namun sayang, sampai dengan saat ini keinginan saya itu belum tercapai.
Cara paling sederhana untuk memahami kesuksesan yaitu dengan contoh sederhana seperti, dapat berbicara, dapat berjalan, dapat  berlari, membaca, bahkan bisa menamatkan taman kanak-kanak hingga masuk ke perguruan tinggi. Apakah hal tersebut merupakan kesuksesan? Iya, tentu saja hal tersebut merupakan bentuk kesuksesan. Namun, apakah contoh di atas merupakan sukses terbesar di hidup anda? Mungkin lebih tepat lagi, tanyakan pada diri anda, apa sukses terbesarku?
Cerita ini dimulai ketika saya berumur 16 tahun (kelas 2 SMA), kira-kira 2 tahun yang lalu. Saya tepilih mewakili kota kelahiranku, untuk menjadi salah satu calon PASUKAN PENGIBAR BENDERA PUSAKA tingkat provinsi. Setelah berangkat ke provinsi dan mulai menjalani beberapa kegiatan di sana, seperti perkenalan, pemeriksaan kesehatan, dan kegiatan lainnya, kami diseleksi lagi. Dalam seleksi ini, beberapa dari kami dinyatakan tidak bisa lanjut ke tahap berikutnya (termasuk saya).
Dari cerita singkat di atas mungkin  menurut kalian tidak ada suatu kesuksesan,  melainkan suatu kegagalan. Namun dalam pengalaman saya ini, saya merasakan bahwa hal inilah yang menjadi suatu kesuksesan terbesar dalam hidup saya walaupun telah mengecewakan kota kelahiranku.
Setelah menerima kabar bahwa saya telah gugur, saya dan teman-teman yang juga gugur dipanggil menghadap ke salah satu pengurus PASUKAN PENGIBAR BENDERA PUSAKA. Mereka memberitahukan alasan kenapa kami gugur. Setelah diberitahu, ternyata alasan mengapa saya bisa gugur adalah identitas saya yaitu pernah menjadi salah satu PASUKAN PENGIBAR BENDERA PUSAKA tingkat kabupaten.
Ketika mengetahui alasannya, saya kembali teringat mengapa semua ini terjadi. Dan ternyata saya sadar kejadian ini merupakan salah satu wujud dari doa saya. Karena pada saat yang sama ketika saya terpilih menjadi calon PASUKAN PENGIBAR BENDERA PUSAKA, keluarga saya berencana pergi ke Bali karena ada hal penting yang harus kami sekeluarrga hadiri. Saya sangat ingin sekali hal ini terjadi karena kami sekeluarga belum pernah melakukan perjalanan bersama. Karena hal inilah yang membuat saya terus berdoa. Dan akhirnya terkabul.
Saat mendengar bahwa saya gugur, perasaan menyesal yang mendalam dan pasrah pun tercampur. Menyesal karena tidak membawa nama kabupaten dengan baik, sudah diberi kepercayaan namun gagal melaksanakannya, dan pasrah menerima apa yang sudah terjadi, karena ini juga merupakan doa saya. Namun dibalik semua ini ada suatu kesuksesan besar yang saya rasakan yakni saya bisa memberikan hasil (uang) kepada kedua orangtua saya selama mengikuti pelatihan calon PASUKAN PENGIBAR BENDERA PUSAKA.
Dari cerita ini mungkin terdengar seperti sebuah kekonyolan, hanya untuk kebersamaan dalam sebuah keluarga saya rela melakukan semua ini. Namun dari pengalaman ini saya menemukan dan memahami apa itu kesuksesan terbesar. Walaupun saat ini belum mendapatkan pekerjaan yang mapan, setidaknya saya pernah (walaupun sedikit) memberi sesuatu yang layak kepada kedua orangtua saya.

Minggu, 01 Mei 2016

Pengaruh Gadget Terhadap Perkembangan Anak




Nama: Ni Ketut Artanti Agustini
No. Regis: 13115015
Kelas: A  


PENGARUH GADGET TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK

Prinsip perkembangan adalah perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti (never ending process). Manusia secara terus menerus berkembang atau berubah yang dipengaruhi oleh pengalaman atau belajar sepanjang hidupnya. Anak mengalami beberapa fase pertumbuhan dan perkembangan. Namun dalam tumbuh kembangnya, faktor sosial dapat diperkirakan memiliki potensi lebih besar untuk mempengaruhi perkembangan seorang anak. Salah satu faktor sosial yang memiliki pengaruh besar tersebut adalah gadget.
Pada zaman sekarang sering kita jumpai fenomena anak kecil yang sudah pandai menggunakan gadget canggih. Mungkin pada saat ini kita jarang melihat anak-anak yang bermain dengan permainan tradisional. Sudah menjadi pemandangan yang langka bahkan punah dikalangan anak-anak modern. Game di gadget adalah salah satu pilihan dan bahkan menjadi permainan favorit bagi anak-anak zaman sekarang. Salah satu fitur lainnya yang terkenal dan paling menarik dari gadget adalah internet. Selain memperkaya wawasan, anak bisa memperluas persahabatan melalui situs jejaring sosial seperti facebook, twitter atau instagram. Terkadang banyak orang tua yang membiarkan anaknya bermain gadget karena satu hal yang menguntungkan bagi orang tua adalah sang anak tak perlu ribut dan mengganggu ketika sedang bekerja.
Walau memberi begitu banyak keuntungan dalam pemakainnya, gadget juga bisa memberi dampak negatif pada anak. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:
1.            Resiko terkena radiasi
 Anak-anak masih mengalami perkembangan sistem saraf sehingga sangat rentan terkena radiasi.
2.            Menjadi sebuah kebiasaan
Seperti halnya orang dewasa, anak-anak juga sangat beresiko kecanduan bermain gadget. Apabila sudah menjadi kebiasaan maka hal ini bisa menyebabkan anak tidak berminat untuk berinteraksi dengan orang lain. Kondisi seperti ini tentunya sangat tidak baik bagi perkembangan kemampuan anak dalam hal bersosialisasi.
 3.           Lambat memahami pelajaran
Kebiasaan anak-anak yang asik dengan gadget akan berpengaruh terhadap kemampuan otak dalam menangkap informasi.
4.            Beresiko terhadap perkembangan psikologis anak
Terkadang sebagian game ataupun tontonan pada gadget memperlihatkan kekerasan sehingga hal ini bisa berdampak negatif terhadap perkembangan psikologis anak.

Sebagai orang tua harus membatasi penggunaan gadget pada anak dan sebaiknya mendampingi anak ketika menggunakan benda tersebut supaya tidak memberikan pengaruh buruk terhadap perkembangan anak.